Tumbuh Kembang Tumbuh KembangCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
parenting

MPASI Pertama Anakku: Antara Harap dan Deg-degan

Cerita pengalaman memperkenalkan MPASI pertama pada anak pertama di Pulaumangudu, antara harap dan deg-degan yang wajar, plus pelajaran berharga untuk orangtua baru.

3 May 2026 · 3 menit baca · oleh Eko Ramadhan Kurniawan
MPASI Pertama Anakku: Antara Harap dan Deg-degan

Hujan deras mengguyur Pulaumangudu sore itu. Aku duduk di dapur, menatap mangkuk kecil berisi bubur tim pertama untuk Qila, putriku yang baru genap enam bulan. Jari-jariku gemetar memegang sendok. Bukan karena dingin, tapi campuran harap dan was-was. Gimana kalau dia gak suka? Kalau teksturnya masih terlalu kasar? Atau malah tersedak? Pikiranku kalut, padahal ini baru suapan pertama.

Perjalanan MPASI: Trial and Error

Malam sebelumnya, aku dan istri bolak-balik baca panduan IDAI soal waktu tepat mulai MPASI. Katanya sih saat bayi udah bisa duduk tegak walau masih dibantu, refleks dorong lidahnya hilang, dan mulai penasaran sama makanan orang dewasa. Qila udah nunjukin semua tanda itu. Akhirnya kami sepakat, besok pagi cobaan pertama dimulai.

Bubur tim buatanku sederhana: nasi, wortel, plus dikit daging ayam kampung yang udah dihalusin. Aku saring sampai benar-benar lembut, takut ada serat yang nyangkut. Pas sendok pertama nyampe deket mulut Qila, dia ngeliatin aku dengan wajah bingung. Perlahan dia buka mulut, terima bubur itu, trus... muntahin lagi. Langsung aja hati ini ciut.

Istriku cuma senyum. "Dia belum biasa, Mas. Coba lagi." Kami gantian nyuapin. Beberapa kali gagal, tapi akhirnya ada satu sendok yang masuk. Wajah Qila berubah dari heran jadi penasaran. Mulutnya terbuka lagi. Lega banget rasanya.

Dari situ aku sadar, MPASI bukan cuma soal gizi, tapi juga soal sabar dan percaya. Tiap anak punya ritme sendiri. Ada yang langsung lahap, ada yang perlu waktu berminggu-minggu. Gak usah bandingin sama anak tetangga atau yang di medsos.

Tantangan selanjutnya adalah konsistensi. Antara kerja di Pulaumangudu dan jadi ayah, bagi waktu tuh kayak tarik tambang. Aku sering pulang malem cuma bisa liat Qila tidur. Tapi tiap weekend, aku siapin MPASI untuk seminggu. Diblender, dibagi porsi kecil, terus dibekuin. Tinggal istriku panasin pas mau makan.

Hasilnya gak selalu mulus. Pernah Qila mogok makan tiga hari berturut-turut. Aku panik, hampir bawa ke dokter. Tapi abis baca artikel di Kompas Kesehatan, ternyata itu fase normal. Bayi bisa aja bosan atau lagi tumbuh gigi. Solusinya? Variasi tekstur dan rasa. Aku mulai campurin brokoli, labu, sama ikan kembung. Pelan-pelan dia lahap lagi.

Intinya sih konsisten tapi jangan maksa. Anak bukan mesin yang harus habisin porsi. Mereka manusia kecil yang lagi belajar kenal dunia lewat rasa. Tiap sendok yang masuk itu kemenangan kecil. Tiap sendok yang dimuntahin jadi pelajaran buatku buat lebih sabar.

Sekarang, udah lewat beberapa bulan, aku cuma bisa senyum inget kepanikan waktu itu. MPASI bukan ujian yang harus sempurna. Ini proses tumbuh bareng. Qila sekarang udah bisa makan nasi tim lahap, bahkan kadang ngeraih sendok sendiri. Aku sadar, kekhawatiranku dulu itu bentuk sayang yang mungkin agak kaku. Nyatanya, anak-anak lebih kuat dari yang kita kira. Yang penting, kita ada buat mereka.

Ibu menyuapi bayi dengan bubur MPASI di ruang makan

Tag: #tumbuh kembang #MPASI #parenting #pengalaman orangtua