Tumbuh Kembang Sehari-hari: Menikmati Setiap Langkah Kecil Bersama Si Kecil

Pagi itu di Pulaumangudu, saya duduk di kursi kayu dekat jendela sambil mengamati Nara, putri saya yang baru genap dua tahun. Ia asyik memindahkan balok-balok warna-warni dari kardus ke lantai, lalu kembali lagi ke kardus. Gerakannya pelan tapi penuh konsentrasi. Saya sadar, inilah tumbuh kembang yang sering luput dari perhatian: bukan hanya milestone besar seperti berjalan atau bicara, melainkan rutinitas kecil yang ia ulang setiap hari. Sebagai ibu bekerja, saya kadang terlalu sibuk mengejar deadline di depan laptop hingga lupa bahwa perkembangan Nara justru terjadi pada momen-momen sederhana seperti ini.
Menemukan Momen Bermakna di Tengah Kesibukan
Banyak orangtua muda yang saya temui di komunitas parenting merasa cemas jika anak tidak menunjukkan kemajuan sesuai tabel perkembangan standar. Saya pun pernah merasakannya. Namun, pengalaman saya sendiri mengajarkan bahwa tumbuh kembang anak tidak selalu linear dan tidak harus diukur dengan daftar capaian. Justru, menikmati proses sehari-hari—waktu makan bersama, mandi sore, atau bermain di halaman—memberikan dampak yang lebih mendalam bagi bonding emosional.
Misalnya, saat saya memperkenalkan makanan padat (MPASI) kepada Nara, saya tidak hanya fokus pada tekstur dan nutrisi. Saya membiarkannya meraba, mencium, dan bahkan melempar makanan. Meskipun berantakan, setiap reaksinya adalah data berharga bagi saya untuk memahami preferensi dan sensoriknya. Saya belajar dari sumber tepercaya, seperti artikel di Wikipedia tentang tumbuh kembang anak, bahwa stimulasi sensorik seperti ini penting untuk perkembangan otak.
Begitu pula dengan rutinitas tidur. Awalnya saya memaksa jadwal ketat agar bisa bekerja di malam hari. Tapi setelah beberapa bulan, saya sadar Nara butuh waktu tenang bersama saya sebelum tidur. Kini, kami punya ritual membaca buku cerita bergambar sambil berpelukan. Bukannya membuat saya kehilangan waktu kerja, ritual ini justru mengisi ulang energi saya. Saya menjadi lebih sabar dan kreatif dalam mengatur waktu antara tugas kantor dan kebersamaan Pengalaman serupa saya tulis di tumbuh kembang remaja.
Di lingkungan Pulaumangu yang masih asri, saya juga sering mengajak Nara jalan-jalan sore. Ia senang melihat daun jatuh dan mendengar suara burung. Saya tidak perlu mengajarinya nama-nama benda; ia belajar dengan caranya sendiri. Inilah yang saya sebut learning by doing—sebuah pendekatan yang saya yakini lebih kuat dari sekadar buku panduan.
Pada akhirnya, tumbuh kembang sehari-hari bukan tentang seberapa cepat anak mencapai target, melainkan seberapa hadir kita sebagai orangtua di setiap prosesnya. Saya percaya, ketika kita memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi sesuai ritmenya, kita juga sedang memberi izin pada diri sendiri untuk tidak sempurna. Dan justru dari ketidaksempurnaan itulah tumbuh kembang yang sesungguhnya berakar.

Bahan bacaan: sumber resmi